|
jiwa > Februari 2001 Hidup Bersahaja (22/02/2001) Setiap orang besar di dunia ini, yang jalan hidupnya dipanuti oleh jutaan banyak orang selama bertahun-tahun, hidup sederhana. Mungkin saja mereka memiliki kesempatan untuk menumpuk harta dan kemakmuran, namun mereka lebih suka mempunyai beberapa lembar pakaian sekedar melindungi tubuh, serta suap roti yang cukup untuk mengganjal perut. Mereka tak khawatir akan masa depan. Mereka percaya akan alam yang teramat baik ini. Mungkin juga mereka memiliki kekuatan untuk memerintah orang lain menuruti apa maunya, namun mereka lebih suka menisik sendiri bajunya yang robek atau membantu memikul beban orang lain. Mereka yakin bahwa hanya bila mereka mampu mengatasi kesulitannya sendiri, mereka layak untuk melayani orang lain. Mereka bersahaja dalam segala hal. Juga dalam cita-cita hidup mereka: menjadikan dunia ini lebih baik bagi seluruh penghuninya. Seekor tupai hanya tinggal dalam satu lubang, meski terdapat ribuan pohon besar di hutan. Seekor zebra hanya meneguk air kubangan secukupnya meski panas terik membakar gurun. Kesederhanaan adalah kekuatan. Sebab saat kita menemukan arti kata cukup, kita memahami makna sebuah kepuaasan.
Kejujuran Tak Pernah Lekang (19/02/2001) Pepatah kuno ini tak pernah lekang bagaimana pun majunya sebuah perekonomian: "kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana." Bawalah sekeping kejujuran dalam saku kita, itu melebihi mahkota raja di raja sekalipun.
Simpati Itu Untuk Diulurkan (12/02/2001) Seorang peminta-minta yang menerima sekeping uang logam dengan penuh kegembiraan, kemudian mengucapkan sepatah doa bagi kita, bisa jadi lebih menemukan ketentraman dalam hatinya. Daripada kita yang menggenggam erat sekeping uang logam dalam saku sambil menggerutu tentang kemalasan dan kebodohan. Mungkin, sekeping uang logam yang kita ulurkan takkan mengubah nasib dunia, namun itu mengubah hati kita. Keberuntungan yang kita rasakan adalah untuk diwujudkan dalam bentuk simpati, bukan untuk menjadikan kita merasa lebih baik dari orang lain.
Tinggalkan Angan-angan, Wujudkanlah Dalam Kerja (05/02/2001) Dengan bekerja manusia menjadi penting dan dibutuhkan. Manusia ditimbang dari apa yang dikerjakannya. Bila telur mengibaratkan angan-angan, maka pilihlah ayam yang mengibaratkan karya cipta yang terujudkan. Maka, bukan mana yang lebih dahulu keluar: telur atau ayam. Namun, mana yang lebih berharga bagi kesejahteraan hidup kita di bumi ini. Dan, itu semua hanya tercapai melalui bekerja.
|