jiwa > Maret 2001

Mengasah Diri (27/03/2001)
Penebang mengasah kapaknya. Pemburu mengencangkan busurnya. Penulis meraut pensilnya. Mereka harus memperbarui peralatannya. Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas. Tak banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang tumpul dan aus. Tak ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang renta. Tak sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan karier yang penuh dan berlimpah?

Kita memiliki sesosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan jaman. Serta sekepal hati nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia. Maka tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyanyian kebahagiaan hidup ini.

Mengabdi Pada Kemanusiaan (19/03/2001)
Untuk mengabdi pada sebuah kota, tak harus kita jadi camat atau bupati. Pada saatnya kita akan turun dan diganti. Untuk mengabdi pada sebuah negara, tak harus kita jadi presiden atau menteri. Tak lama, rakyat akan berbondong-bondong menentukan pilihannya lagi. Jangan persempit sebuah pengabdian hanya karena seperangkat jabatan atau tanda pangkat yang tak mesti. Mengabdilah sedemikian rupa sehingga nilai pengabdian itu takkan uzur karena usia, dan takkan lekang karena kedudukan. Mengabdilah atas nama kemanusiaan demi kesejahteraan hidup sesama.

Seorang bijak pernah berkata bahwa jabatan tertinggi yang pantas disandang oleh manusia adalah sebagai pemakmur bumi. Dan itu, bisa kita lakukan dimana pun bumi kita pijak, di kapan pun usia kita berputar. Bahkan, bisa kita kerjakan hanya dengan tangan telanjang. Tanpa perlu pengangkatan. Tanpa perlu jabatan.

Berani Menghadapi Hidup (12/03/2001)
Hanya teramat sedikit, dan sedikit sekali, orang mampu menghadapi hidup ini dengan gagah berani. Kegagahan tak harus menampakkan otot kekar, wajah tegar, atau suara menggelegar. Keberanian tak mesti ditunjukkan di medan pertempuran atau jadi pahlawan yang namanya terukir di batu-batu peringatan. Karena, ternyata aturan keberanian dalam hidup ini sangat sederhana: hadapi saja dengan senyum di bibir, kesederhanaan berpikir, dan kegembiraan dalam dzikir.

Bukankah hidup ini tak lebih dari sebuah permainan yang tak perlu diselesaikan dengan menang atau kalah. Menikmati setiap jengkal permainan jauh lebih berharga ketimbang kemenangan itu sendiri. Karenanya, tak banyak guna bersenang-senang bila dalam diri masih ada berlembar-lembar ketakutan. Hampir sia-sia bahak tawa sedangkan hati resah penuh keinginan. Mari jalani hidup ini dengan kegembiraan seutuhnya. Saat kita berani menghadapinya, kita temukan bahwa hidup ini indah... sangat indah.

Bersyukurlah (05/03/2001)
Semestinya kita mensyukuri apa pun yang menimpa kita. Ini bukan soal keberuntungan. Bersyukur menuntun kita untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin berkata bahwa kita tidak realistis. Namun, bersyukur adalah sikap menerima kenyataan. Adakah yang lebih realistis sebelum kita terbebas dari kecemasan dan ketakutan akan kenyataan?

Bersyukur mendorong kita untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup selain sikap bersyukur.

Semakin banyak kita bersyukur semakin banyak kita menerima. Semakin jauh kita mengingkari, semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri sendiri. Banyak orang terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat keberhasilan lalu mensyukurinya. Kita takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Kita berhasil karena berusaha. Sedangkan usaha kita lakukan karena melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak di pandangan kita.

kembali ke atas