|
jiwa > April 2001 Teruslah Bergerak, Teruslah Berkarya (30/04/2001) Jangan berhenti. Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan kita. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa kita tak akan pernah bisa berhenti. Meski kita berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak kita mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberi kebahagiaan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari kita. Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini: Jangan berhenti berkarya, atau kita segera menjadi tua dan tak berguna.
Bermanfaatlah (23/04/2001) Semestinya kita ini bermanfaat dari pucuk rambut hingga ke ujung kaki. Seperti pohon kelapa yang seluruh tubuhnya bisa kita gunakan: daun, batang, buah, akar, hingga sabut dan tempurungnya, tak ada yang terbuang percuma. Demikian juga pohon pisang yang tak satu pun bagiannya yang tak bisa dipakai untuk sesuatu. Juga berbagai tumbuh-tumbuhan lain, mulai dari pohon tinggi menjulang yang tumbuh di hutan-hutan hingga semak dan ilalang yang bertebaran di lereng gunung dan padang rumput. Semuanya memberikan manfaat. Semuanya berguna. Tak ada yang sia-sia. Lalu mengapa banyak orang merasa hidupnya yang hanya sekelebat ini tersia-sia? Anugerah yang ada dalam diri manusia sudah begitu berharga: panca indera, anggota tubuh, akal pikiran, hingga sebongkah hati nurani. Semuanya tentu bukan untuk hal percuma. Itulah sebabnya, seorang bijak pernah berkata, "Bila manusia yang tak memberikan manfaat bagi sesama, maka apa lagi yang diharapkan darinya?"
Luaskan Pandangan Kita (16/04/2001) Seorang bijak pernah bercerita, Ada tiga orang tukang batu sedang bekerja. Yang pertama berkata, "Aku sedang menyusun batu bata-batu bata ini." Yang ke dua berkata, "Aku sedang mendirikan tembok." Sedangkan yang ke tiga berkata, "Aku sedang membangun sebuah istana." Sedang apakah kita? Apakah kita mampu melihat sesuatu yang besar, jauh melintasi cakrawala, mengatasi kesempitan pandangan, dan melewati batas-batas pikiran? Kita semua memang sedang menyusun batu-batu kecil, merekatkannya dengan batu-batu orang lain untuk mewujudkan selembar dinding batu. Namun, pada saat yang sama di sisi yang tak selalu tampak, bangsa-bangsa dan generasi-generasi lain juga menegakkan dinding-dinding yang bila ditautkan membentuk sebuah istana megah. Tiada sesuatu, meski hanya sebesar biji bayam, yang sia-sia. Lakukan karya kita, meski kecil, namun penuh cinta dan kebaikan. Maka, kita menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi kesempurnaan bangunan istana kehidupan ini.
Tiupan Yang Menghangatkan Sekaligus Menyejukkan (09/04/2001) Saat udara dingin, bagian tubuh yang mudah menggigil beku adalah telapak tangan kita. Tahukah kita cara termudah untuk menghangatkannya? Ya!, kita bisa meniup-niup telapak tangan kita. Udara yang terhembus dari mulut kita akan memuaikan dingin dan menghangatkan telapak tangan kita. Dan, saat udara dingin, kita dapat menghangatkan seluruh tubuh dengan meneguk secangkir kopi panas. Tapi tentu tak mudah bagi kita untuk meminum kopi yang sedang mendidih. Tahukah kita cara termudah untuk mendinginkan kopi panas itu? Ya!, kita bisa meniup-niupnya. Udara yang terhembus dari mulut kita akan menyingkirkan panas dan menyejukkan permukaan kopi. Kini kita bisa mereguknya dengan suka cita. Lihatlah!, tiupan yang sama itu mampu menghangatkan dingin, sekaligus menyejukkan panas. Mengapa tiupan kita bisa melakukan "keajaiban" seperti ini? Karena, tiupan itu berasal dari hembusan nafas kita. Dan nafas adalah tali jiwa kehidupan. Karena hidup itu sendiri adalah sebuah ketakjuban. Maka, jangan lukai hembusan nafas kita dengan kata-kata yang memanaskan hati yang panas dan membekukan hati yang kaku.
Bebaskan Diri Kita Dari Jebakan Hutang (02/04/2001) Ah, betapa bahagianya bila kita benar-benar memiliki apa yang kita "miliki". Akui saja, betapa banyak orang "memiliki" harta, mendiami rumah atau mengendarai kendaraan atas nama "bukan" miliknya sendiri; melainkan atas nama sebuah kertas pengakuan hutang. Akui saja, betapa banyak orang memburu kepemilikan, padahal yang digenggamnya hanyalah sebuah pinjaman. Dan, agaknya kini segala sesuatu yang berhubungan dengan hutang piutang menjadi begitu mudah didapat. Kita memang patut berterima kasih, karena dengannya banyak orang bisa meraih kesejahteraan hidup yang lebih baik. Namun, sungguh tak sama antara pinjaman demi kesejahteraan hidup dengan pinjaman yang menjerat hidup. Jauh lebih menyenangkan bila kita terbebas dari jerat hutang. Jauh lebih membebaskan bila kita memiliki apa yang kita miliki. Pertimbangkan apakah kita kini sedang berupaya memperbaiki kehidupan kita atau memperburuknya. Sejatinya, kita berhutang sepenuhnya pada hidup ini, namun hidup tak pernah menagihnya pada kita. Tidak juga beserta bunga-bunganya.
|