jiwa > Mei 2001

Tak Ada Yang Mengalahkan Pesona Kesederhanaan(28/05/2001)

Semula kita belajar melakukan hal-hal sederhana. Tak lebih dari satu tambah satu sama dengan dua. Ketika soal-soal itu semakin terasa mudah, kita coba kerjakan yang sulit. Kita rambah puluhan, ratusan, perkalian juga pembagian. Kita namai itu sebagai tantangan. Tak lama tantangan kehilangan daya tariknya jua. Maka, kita kepalkan tangan untuk menaklukkan sesuatu yang rumit, besar, dan tak mudah ditundukkan. Sebuah soal pun dijawab oleh berlembar-lembar perhitungan hingga nyaris tak dikenali lagi mana angka mana tanda baca. Tapi segera saja, kenjelimetan itu membosankan. Tahukah apa akhir dari pergulatan ini?

Yaitu, ketika kita mulai meringkas jawaban. Memendekkan pola perhitungan. Memangkas baris-baris pembuktian. Di perjalanan ini kita seolah berbalik ke titik semula: kesederhanaan. Tak ada yang mengalahkan pesona kesederhanaan. Kita boleh kumpulkan apa saja dalam hidup ini, namun pada terminal perhentian, kita kembali dengan tangan yang sederhana dan meninggalkan semua kerumitan jauh di belakang.

Temukan Cinta Kita (21/05/2001)

Bila kita tak mencintai pekerjaan kita, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja kita, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong kita untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Bila toh kita juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja kita. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila kita tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa kita cintai dari kerja kita: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.Apa saja.

Bila kita tak menemukan yang bisa kita cintai dari pekerjaan kita, maka mengapa kita ada di situ? Tak ada alasan bagi kita untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang kita cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Berikan Ketulusan Bukan Kesempurnaan (14/05/2001)

Beberapa buruh menemui sang majikan. Mereka mengeluhkan ongkos angkutan yang semakin mahal, dan meminta sang majikan untuk bersedia membantu. Perusahaan itu sudah ada di sana bertahun-tahun, turun-temurun. Mereka sendiri sudah saling mengenal baik. Sang majikan mengatakan bahwa sebenarnya beliau ingin sekali membantu, namun keuangan perusahaan tak cukup memungkinkan. Sedangkan menyediakan kendaraan angkutan yang layak pun kesulitan. Hanya ada dua buah truk tua yang biasa digunakan untuk mengangkut barang. Bila pekerja tak keberatan, mereka bisa memakainya untuk antar jemput setiap hari. Ternyata, para pekerja itu menyambut dengan gembira. Kata mereka, "Kami ini buruh kecil yang terbiasa hidup berat. Naik truk berdesak-desakan bukan hal yang sulit buat kami." Dan, keesokan hari berbondong-bondong para buruh itu berangkat dan pulang kerja bersama-sama. Tidak seorang pun ada yang terlambat datang.

Bila kita bermaksud memberikan sesuatu bagi orang lain, jangan tunggu semuanya sempurna. Ketulusan adalah jawaban terutama.

Tak Cukup Kata (08/05/2001)

Seandainya burung punya tangan, akankah ia menulis untuk anak-anaknya tentang pelajaran terbang? Tentang bagaimana mengepakkan sayap, menelusuri angin, atau menukik berkelok-kelok? Pasti tidak. Bahkan tak perlu. Sebab, manusia pun tak banyak menggunakan kata-kata untuk melukiskan sesuatu. Tak perlu seorang penari menulis bagaimana sebuah tarian pantas dilenggokkan. Tak usah seorang pemahat menulis bagaimana sebuah bongkah kayu harus diukir. Tak cukup kata untuk mengungkapkan semua itu. Karena, yang dibutuhkan adalah contoh nyata - teladan - yang dapat disentuh, dirasa, dan kasat mata.

Tak habis orang menulis bertebal-tebal kitab untuk mengungkapkan: "bagaimanakah menjadi seorang pemimpin yang baik." Betapa terbatasnya kata, bahkan untuk sebuah yang "baik" pun takkan pernah cukup untuk melukiskannya. Itulah mengapa pemimpin yang baik tak berada di balik kata-kata, melainkan menjadi sebuah teladan - contoh nyata - yang dapat disentuh, dirasa, dan kasat mata.

kembali ke atas