jiwa > Juni 2001

Kesedihan Dan Kegembiraan Itu Sementara 24/07/2001

Ada kalanya tiba masa-masa sulit; yang membuat hidup serasa penuh kepedihan dan keluh kesah. Namun, pada saatnya jua tibalah masa-masa kegembiraan; yang membuat hidup terasa ringan dan terang. Tanpa sadar bibir kita basah dengan senyuman. Sesungguhnya, kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, keriangan dan emosi-emosi lain hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Tak selamanya kesedihan dan kegembiraan melanda kita. Semua itu datang silih berganti, tanpa selalu dapat dinanti.

Yang perlu kita pahami adalah kesementaraan ini. Kesementaraan menunjukkan bahwa emosi-emosi itu bukanlah milik kita. Ia hanya sebuah tawaran dari alam yang menuntun tindakan dan sikap kita. Ia bukanlah kita. Saat gembira sadarilah kegembiraan itu. Saat sedih pahamilah kesedihan itu. Saat kita penuh dengan kesadaran akan emosi kita, saat itu kita bersentuhan dengan jiwa yang tenang milik kita.

Dimana Kita Temukan Kebahagiaan 17/07/2001

Mari amati, betapa manusia sibuk berlalu-lalang di muka bumi ini. Berusaha ke sana kemari. Dari barat ke timur. Dari puncak gunung sampai ke pesisir pantai. Dari pagi hingga petang. Mengarungi pucuk-pucuk langit. Menyelami palung-palung samudra. Apakah yang kau cari wahai manusia? Hingga kau rela berpayah membanting segala upaya.

Sesungguhnya, apa pun yang kita cari, kita hanya mencari sebongkah kebahagiaan hidup. Sebagian orang berhenti mencarinya saat mereka menerima sejumput nafkah, atau menemukan secuil kekuasaan, atau mereguk sekejap ketenaran. Mereka menganggap kebahagiaan berada di balik yang mereka dapatkan itu. Hanya teramat sedikit sekali orang yang tak mencari kebahagiaan di sela-sela semua itu. Mereka berkeyakinan, kebahagiaan tidak melekat dimana-mana. Kebahagiaan mereka temukan sembari melepaskan diri dari apa pun pandangan mereka tentang dunia ini. Kebahagiaan adalah kebebasan. Kehadiran kita di muka bumi ini untuk menorehkan sedikit kemakmuran, bagi masa kini dan ribuan generasi mendatang. Kita sumbangkan setitik kebahagiaan lewat kesejahteraan hidup bersama.

Bahasa Hidup Adalah Bahasa Cinta 10/07/2001

Bila berkenan, peliharalah sejumput tanaman. Tak perlu terlalu rumit, cukuplah palem yang mudah dirawat. Sambil menyirami, mencarikan sinar matahari atau memupuki tanah, kita belajar memberikan cinta pada sebuah kehidupan. Atau, peliharalah seekor hewan kesenangan. Cukuplah sepasang merpati yang bisa dilepas bebas. Sambil memberikan makan, membersihkan kandang dan bertepuk-tangan, kita belajar menerima balasan atas cinta yang kita berikan. Lebih dari itu, jagalah keluarga kita. Ketika kita bekerja, bercengkerama atau membangun rumah tangga, kita belajar menciptakan sebuah kehidupan. Dan, hanya ada satu energi untuk menghadirkan semua itu; yaitu energi cinta kasih.

Batu, tanaman, hewan, keluarga, rekan kerja, lingkungan serta semua yang ada adalah wujud kehidupan. Tiada lain tujuan kehadiran kita adalah untuk meneruskan dan menyempurnakannya. Rasakan bahwa kita hidup. Rasakan bahwa semua yang ada adalah hidup. Kita berkomunikasi dengan segala yang ada dengan bahasa kehidupan. Dan, bahasa itu adalah cinta kasih.

Di Balik Sebuah Anyaman 03/07/2001

Ambillah selembar karya sulam atau anyaman yang indah. Amati betapa kecermatan tangan-tangan trampil telah mampu menjalin benang warna-warni rumit menjadi sebuah citra cantik. Kemudian, balikkah sulaman itu hingga tampak bagian bawahnya. Apa yang terlihat di sana? Jemalin benang yang tak karuan, berserabutan tanpa pola. Mungkin kita masih bisa samar-samar melihat citra yang tadi tampak. Namun, lebih mudah menangkap keruwetan hilir mudik benang yang tak kita mengerti. Bila kita tahu atau cukuplah berkeyakinan bahwa pasti ada sesuatu yang indah di balik pengamatan kita, tentulah kita tak kehilangan semangat untuk menghadapi setiap kesulitan hidup ini.

Demikian pula penangkapan kita dari kenyataan yang tampak ini. Apakah kita melihat kekusutan luar biasa pada fakta-fakta? Atau kita telah mampu membumbung tinggi melampaui cakrawala dan menemukan semua skenario keindahan yang tercipta? Berkeyakinanlah. Karena, teramat jarang orang mampu mencapainya. Terlebih lagi, ternyata keindahan itu tak selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata; dan keyakinan itu tak mudah ditanam.

kembali ke atas