berita > Desember 2001

Selasa 04 Desember 2001 16:00 WIB
Tiada Tempat Bagi Pengungsi

DD Online Pakistan Serangan Amerika yang tiada henti-henti membuat penduduk Afghanistan segera hengkang dari kampung halamannya. Rumah-rumah tiada bersisa berserta isinya. Anak dan Istri tidak jelas lagi sisa tubuhnya di bawah puing-puing bangunan rumah.

Hanya berbekal pakaian di badan seorang lelaki tua menyusuri jalan-jalan tanpa arah, hanya satu kata "keluar dari bencana ini". Kabul: Kampung halamannya sebagai kota terbesar di Asia tengah kini tiada bersisa. Dari Kabul ia menyusuri jalan berliku-iku dan amat melelahkan. Tiada air sepanjang perjalanan hanya terik matahari yang menganga di siang hari dan dingin luar biasa di malam hari. Sesekali gemuruh pesawat dan dentuman bom Amerika bersautan terdengar, namun ia tidak menghiraukan. Sudah terlalu capek dipermainkan negara-negara super power yang serakah: Amerika dan Rusia.

Begitu mendekati perbatasan Turkham; perbatasan Pakistan Afghanistan, ternyata tidak semudah yang dibayangkan untuk masuk. Para petugas perbatasan menjaga sangat ketat, sesekali suara pukulan terdengar di tengah-tengah keramaian para pengungsi.

Akhirnya jalan penuh onak dan duri pun ditempuh, melewati gunung-gunung yang tinggi dan sesekali bertemu binatang buas bahkan kadang-kadang para perampok merampas perbekalan terakhir mereka di tengah-tengah perjalanannya. Tapi dengan izin Allah mereka sampai juga ke Pakistan.
Setiba di Pakistan ia bergabung dengan pengungsi lain di daerah Nashr Bagh. Dan mulailah ia dengan rekan-rekan sepenanggungannnya membangun gubuk dari tanah liat yang dibakar.

Sehari ia tinggal di Gubuk tersebut, saying seribu sayang hari itu adalah riwayat terakhir bagi gubuknya. Sesuai dengan keputusan pemerintah Pakistan untuk tidak menerima pengungsi, para polisi Pakistan tidak segan-segan menghancurkan gubuk-gubuk pengungsi tersebut dengan buldoser-buldosernya. Para pengungsi tersebut dipaksa untuk kembali ke negara asalnya. Para polisi tersebut terus-menerus memukuli para pengungsi tanpa ampun bahkan seorang nenek tua yang sudah bongkok juga dipukuli. "Tolong pak! Tiada tempat lagi bagi kami di Afghanistan hanya bom-bom Amerika yang siap menyerang kami" keluh mereka merengek-merengek dengan tangisan yang tiada henti-henti.

Tim ACT Dompet Dhuafa hanya bisa menghela nafas menyaksikan hal tersebut, air matapun tidak bisa dibendung. Dengan membawa bantuan pangan yang cukup buat 2500 orang, Dompet Dhuafa membagi-bagikan ke para pengungsi tersebut. "Hanya ini yang bisa kami lakukan buat nenek" Ungkap salah satu tim ke pada salah satu pengungsi. Tapi diantara pengungsi tersebut, masih banyak yang belum dapat. "Ini kehadiran kami yang kedua dan minggu depan lagi kita akan kesini" ungkap tim ACT Dompet Dhuafa meyakinkan mereka.

M. Iqbal Khomaini Tim ACT DD Republika


kembali ke atas